MASIGNCLEAN103

YOGYAKARTA BERBEDA DENGAN KOTA LAINNYA




BISMILLAHIRROHMANIRROHIM....
ASSALAMUALAIKUM. WR.WB

Haloo ... selamat pagi teman-teman sekalian, apa kabar kalian hari ini? Saya berharap kalian dalam keadaan sehat semua dan tidak ada yang kurang suatu apapun. Aamiin...
Pada kesempatan kali ini saya akan coba menceritakan pengalaman saya di salah satu kota yang sangat kental akan budayanya, pendidikannya serta kulinernya yang murah.
Nah kota manakah itu???




Yapp.. YOGYAKARTA atau juga DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.
Nah Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau jawa. Yogyakarta mulai terbentuk pada 4 maret 1950 dengan total luas wilayah 3.185,80 m². Kota ini sangat terkenal dengan keberagaman budayanya, pariwisata, keramahan penduduknya, ketertiban/kedisiplinan penduduknya dan satu lagi yaitu makanan yang tergolong masih cukup murah dibandingkan dengan daerah-daerah lain.

Sebenarnya saya kurang pas kalau membahas Yogjakarta karena saya sebenarnya juga bukan orang Jogja, saya kelahiran Lampung kemudian usia kurang lebih 3thn saya diajak pindah ke Aceh. Jadi KTP saya adalah Aceh. Hanya saja kakek nenek dulunya memang orang jogja dan menentap dijogja sampai sekarang.

Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Indonesia khusunya jikalau Daerah Istimewa Yogjakarta memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka,apalagi para pelancong/traveller karena keistimewaan Yogyakarta sudah terkenal ke seluruh pelosok negeri, bahkan artikel, video atau yang lainya sudah banyak memuat tentang kota yang satu ini.
Nah yang melatarbelakangi saya juga ikut menulis tentang Jogja adalah kekaguman saya terhadap kota sang satu ini.

Pada mulanya saya menginjakan kaki di tanah jawa yaitu pada 25 April 2018 pukul 13.15 di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dan saya langsung menuju salah satu desa yang ada di Kabupaten Sleman sebagai tempat tinggal saya sementara, dan bermula dari situlah kekaguman saya terhadap Jogja mulai merasuk dalam diri. Perasaan ada yang sangat berbeda dari kota-kota lainnya. Saya merasa ada kebanggaan dan rasa penasaran terhadap kota ini dan segudang pertanyaan, apa yang menyebabkan kota ini bisa berbeda dari kota-kota lain pada umumnya.
Bermula dari rasa itulah keesokan harinya saya mulai menyusuri selangkah demi selangkah sudut kota Jogja.

Perjalanan pun saya mulai dari Desa Sarihajo, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman (tempat tinggal sementara) menuju pusat central Provinsi DI Yogyakarta. Perjalanan relatif menurun dikarenakan lokasi tempat tinggal saya sudah mulai masuk dalam lereng merapi walupun masih lumayan jauh kalau untuk naik ke bagian terdekat dari gunung Merapi tersebut. Setelah berjalan 15 menit saya mulai keheranan, saya belum pernah mendapatkan tempat sampah di pinggiran jalan, yang biasanya di kota-kota lain tempat sampah pasti berjejer di pinggiran jalan dengan jarak 20-50 m.

Tanpa terasa, saya sudah sampai di tugu Yogyakarta, Tugu Putih ini sering dipakai sebagai simbol kota Yogyakarta, tugu ini sering disebut Pal Putih yang berarti Tugu Putih dan itu sebabnya hingga sekarang tugu tersebut tidak berubah warna. Menurut sejarah yang tertulis pada awalnya tugu tersebut dibangun oleh Pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke I sang Pendiri Keraton Yogyakarta. Tugu ini terletak di perempatan Jalan Margo Utomo dan Jalan Jendral Sudirman dan saat ini Tugu Jogja menjadi salah satu objek wisata yang hits di Yogjakarta.

Sekilas menurut saya tidak ada yang istimewa terhadap icon Jogja yag satu ini, karena ya seperti pada umumnya tugu yang memang ditempatkan di permempatan atau pertigaan jalan dengan  berbagai ornamen hiasan masing-masing. Tetapi setelah saya cari tau ternyata dibalik bangunan putih tersebut terdapat simbol dan kepercayaan masayrakat Jogja yang sangat mereka hormati. Tugu Jogja ini tepat berada di jalur lurus yang bersifat magis antara Pantai Selatan, Keraton Yogjakarta dan Gunung Merapi yang konon tugu ini dijadikan patokan oleh Sultan Hamengkubuwono ke I untuk menghadap lurus ke arah Gunung Merapi ketika bermeditasi. Maka tidak heran jika tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh para turis lokal maupun mancanegara karena faktor sejarahnya.

Tanpa terasa matahari sudah berada diatas kepala dan menandakan waktu siang, dan juga perut yang sudah mulai berbunyi. Akhirnya arah perjalanan saya belokkan dulu ke warung pinggiran jalan atau yang sering disebut angkringan untuk sekedar mengganjal perut. Kemudian saya masuk ke salah satu angkringan yang ada di depan saya dan langsug disambut oleh sang penjual dengan berbagai macam makanan yang ada di depannya.

Awalnya saya sedikit bingung, bagaimana proses pemesanannya, diambilkan atau kita ambil sesuka hati. Ternyata setelah saya perhatikan pembeli yang lain mereka mengambil makanan sesuka hati yang mereka inginkan dan tanpa ragu lagi saya mengambil 2 bungkus nasi kucing, 1 tusuk sate jeroan dan memesan 1 gelas es teh manis.

Setelah selesai makan, saya langsung menghampiri penjual dan bertanya “berapa mas semuanya?” sambil menyiapkan uang 20ribu untuk jaga-jaga mana tau prediksi saya 15ribu meleset. Dan dugaan itu ternyata benar, mas penjual menjawab “10ribu saja mas”. Saya tersenyum senang, maklumlah buget memang tipis. Sambil berlalu saya berfikir bahwa di Jogja masih cukup terjangkau untuk para pelancong yang memiliki buget pas-pasan walaupun hanya makan dipinggiran jalan.

Setelah urusan perut selesai, saya berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Malioboro yang katanya disitulah pusat pariwisata yang ada di Yogyakarta. Tetapi niat itu terpaksa saya urungkan karena waktu sudah hampir sore.

Akhirnya saya pulang dan berencana melanjutkan perjalanan esok hari dengan tujuan Malioboro dan Keraton Yogyakarta.
Share This :
rohman71