BISMILLAHIRROHMANIRROHIM....
ASSALAMUALAIKUM. WR.WB
Haloo ... selamat pagi
teman-teman sekalian, apa kabar kalian hari ini? Saya berharap kalian dalam
keadaan sehat semua dan tidak ada yang kurang suatu apapun. Aamiin...
Pada kesempatan kali ini
saya akan coba menceritakan pengalaman saya di salah satu kota yang sangat
kental akan budayanya, pendidikannya serta kulinernya yang murah.
Yapp.. YOGYAKARTA atau
juga DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.
Nah Yogyakarta
merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau jawa. Yogyakarta mulai terbentuk
pada 4 maret 1950 dengan total luas wilayah 3.185,80 m². Kota ini sangat
terkenal dengan keberagaman budayanya, pariwisata, keramahan penduduknya,
ketertiban/kedisiplinan penduduknya dan satu lagi yaitu makanan yang tergolong
masih cukup murah dibandingkan dengan daerah-daerah lain.
Sebenarnya saya kurang
pas kalau membahas Yogjakarta karena saya sebenarnya juga bukan orang Jogja,
saya kelahiran Lampung kemudian usia kurang lebih 3thn saya diajak pindah ke
Aceh. Jadi KTP saya adalah Aceh. Hanya saja kakek nenek dulunya memang orang
jogja dan menentap dijogja sampai sekarang.
Sudah menjadi
rahasia umum bagi masyarakat Indonesia khusunya jikalau Daerah Istimewa
Yogjakarta memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka,apalagi para
pelancong/traveller karena keistimewaan Yogyakarta sudah terkenal ke seluruh
pelosok negeri, bahkan artikel, video atau yang lainya sudah banyak memuat
tentang kota yang satu ini.
Nah yang
melatarbelakangi saya juga ikut menulis tentang Jogja adalah kekaguman saya
terhadap kota sang satu ini.
Pada mulanya saya
menginjakan kaki di tanah jawa yaitu pada 25 April 2018 pukul 13.15 di Bandara
Adi Sucipto Yogyakarta dan saya langsung menuju salah satu desa yang ada di Kabupaten
Sleman sebagai tempat tinggal saya sementara, dan bermula dari situlah
kekaguman saya terhadap Jogja mulai merasuk dalam diri. Perasaan ada yang
sangat berbeda dari kota-kota lainnya. Saya merasa ada kebanggaan dan rasa
penasaran terhadap kota ini dan segudang pertanyaan, apa yang menyebabkan kota
ini bisa berbeda dari kota-kota lain pada umumnya.
Bermula dari rasa
itulah keesokan harinya saya mulai menyusuri selangkah demi selangkah sudut
kota Jogja.
Perjalanan pun saya
mulai dari Desa Sarihajo, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman (tempat tinggal sementara)
menuju pusat central Provinsi DI Yogyakarta. Perjalanan relatif menurun
dikarenakan lokasi tempat tinggal saya sudah mulai masuk dalam lereng merapi
walupun masih lumayan jauh kalau untuk naik ke bagian terdekat dari gunung Merapi
tersebut. Setelah berjalan 15 menit saya mulai keheranan, saya belum pernah
mendapatkan tempat sampah di pinggiran jalan, yang biasanya di kota-kota lain
tempat sampah pasti berjejer di pinggiran jalan dengan jarak 20-50 m.
Tanpa terasa, saya sudah
sampai di tugu Yogyakarta, Tugu Putih ini sering dipakai sebagai simbol kota
Yogyakarta, tugu ini sering disebut Pal Putih yang berarti Tugu Putih dan itu
sebabnya hingga sekarang tugu tersebut tidak berubah warna. Menurut sejarah
yang tertulis pada awalnya tugu tersebut dibangun oleh Pemerintahan Sultan Hamengkubuwono
ke I sang Pendiri Keraton Yogyakarta. Tugu ini terletak di perempatan Jalan
Margo Utomo dan Jalan Jendral Sudirman dan saat ini Tugu Jogja menjadi salah
satu objek wisata yang hits di Yogjakarta.
Sekilas menurut saya
tidak ada yang istimewa terhadap icon Jogja yag satu ini, karena ya seperti
pada umumnya tugu yang memang ditempatkan di permempatan atau pertigaan jalan
dengan berbagai ornamen hiasan
masing-masing. Tetapi setelah saya cari tau ternyata dibalik bangunan putih
tersebut terdapat simbol dan kepercayaan masayrakat Jogja yang sangat mereka
hormati. Tugu Jogja ini tepat berada di jalur lurus yang bersifat magis antara
Pantai Selatan, Keraton Yogjakarta dan Gunung Merapi yang konon tugu ini
dijadikan patokan oleh Sultan Hamengkubuwono ke I untuk menghadap lurus ke arah
Gunung Merapi ketika bermeditasi. Maka tidak heran jika tempat ini selalu ramai
dikunjungi oleh para turis lokal maupun mancanegara karena faktor sejarahnya.
Tanpa terasa matahari
sudah berada diatas kepala dan menandakan waktu siang, dan juga perut yang
sudah mulai berbunyi. Akhirnya arah perjalanan saya belokkan dulu ke warung
pinggiran jalan atau yang sering disebut angkringan untuk sekedar mengganjal
perut. Kemudian saya masuk ke salah satu angkringan yang ada di depan saya dan
langsug disambut oleh sang penjual dengan berbagai macam makanan yang ada di depannya.
Awalnya saya sedikit
bingung, bagaimana proses pemesanannya, diambilkan atau kita ambil sesuka hati.
Ternyata setelah saya perhatikan pembeli yang lain mereka mengambil makanan
sesuka hati yang mereka inginkan dan tanpa ragu lagi saya mengambil 2 bungkus
nasi kucing, 1 tusuk sate jeroan dan memesan 1 gelas es teh manis.
Setelah selesai makan,
saya langsung menghampiri penjual dan bertanya “berapa mas semuanya?” sambil
menyiapkan uang 20ribu untuk jaga-jaga mana tau prediksi saya 15ribu meleset. Dan
dugaan itu ternyata benar, mas penjual menjawab “10ribu saja mas”. Saya tersenyum
senang, maklumlah buget memang tipis. Sambil berlalu saya berfikir bahwa di Jogja
masih cukup terjangkau untuk para pelancong yang memiliki buget pas-pasan
walaupun hanya makan dipinggiran jalan.
Setelah urusan perut
selesai, saya berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Malioboro yang katanya
disitulah pusat pariwisata yang ada di Yogyakarta. Tetapi niat itu terpaksa
saya urungkan karena waktu sudah hampir sore.
Akhirnya saya pulang
dan berencana melanjutkan perjalanan esok hari dengan tujuan Malioboro dan
Keraton Yogyakarta.
Share This :



comment 0 komentar
more_vert