MASIGNCLEAN103

PEMBELAJARAN DAN PRINSIP-PRINSIP DALAM PEMBELAJARAN

A.       Latar Belakang
Istilah pembelajaran mempunyai banyak makna, teori-teori yang mengungkapkan tentang pembelajaran bisa diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Gagne dan Briggs mendifinisikan istilah pembelajaran sebagai suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi,dan sebagainya) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi siswa sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah.[1] Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.[2] Pembelajaran yang dimaksud di sini merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan. Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa dan dia harus mampu menentukan tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna dan dapat terukur, disamping itu seorang guru harus dapat memilih dan menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa yang mengacu kepada tujuan yang telah diharapkan tersebut.

B.     Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahun, penguasaan, kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan kepada peserta  didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang dibentukan, juga dapat mempengaruhi perubahan sikap, serta keterampilan seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan suatu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajaran yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfalisitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat di ukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, di tunjang fasilitas yang memadai, di tambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar tersebut.

C.     Prinsip – Prinsip  Pembelajaran.
Prinsip mengajar atau pembelajaran merupakan usaha guru dalam menciptakan dan mengkondisi situasi belajar-mengajar agar siswa melakukan kegiatan belajar secara optimal. Usaha tersebut dilakukan guru pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Penggunaan prinsip mengajar  bisa direncanakan guru sebelumnya, bisa pula secara spontan dilaksanakan pada saat berlangsungnya proses be;ajar-mengajar. Terutama bila kondisi belajar siswa sudah menurun. Beberapa prinsip mengajar yang paling utama harus digunakan guru antara lain:

a.       Prinsip Motivasi
Kegiatan belajar siswa dapat berlangsung apabila siswa ada perhatian dan dorongan terhadap stimulus belajar. Untuk itu maka guru harus berupaya menimbulkan dan mempertahankan perhatian dan dorongan siswa melakukan kegiatan belajar. Upaya memberikan perhatian dan dorongan belajar kepada siswa dilakukan guru sebelum mengajar dimulai, pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar terutama pada saat siswa melakukan kegiatan belajar-mengajar dan pada saat kondisi belajar siswa mengalami kemunduran. Perhatrian siswa terhadap stimulasi belajar dapat diwujudkan melalui beberapa upaya seperti penggunaan media pengajaran atau alat-alat peraga, memberikan pertanyaan kepada siswa, melakukan pengulangan informasi yang berbeda sifatnya dengan cara sebelumnya, memberikan stimulus belajar dalam bentuk lain sehingga siswa tidak bosan. Sedangkan motivasi belajar siswa dapat dilakukan melalui dua bentuk motivasi yaitu:


1.      Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik yang bersumber dari luar diri anak didik sangat diperlukan. Motivasi ekstrinsik ini diberikan bisa dalam bentuk ganjaran, pujian, hadiah, dan sebagainya.
2.      Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tapi atas kemauan sendiri.

b.      Kooperasi dan Kompetisi
Tidak semua persoalan dapat dipecahkan sendiri oleh manusia. Demikian halnya dalam perbuatan belajar, banyak stimulus belajar yang menuntut adanya kerja sama siswa dalam pemecahannya. Kerja sama siswa dalam kegiatan belajar sangat penting dilaksanakan, bukan hanya sekedar memperoleh hasil yang optimal tetapi juga merupakan usaha memupuk sikap gotong-royong, toleransi, kepekaan sosial, sikap demokratis, saling menghargai, dan memupuk keterampilan mengadakan interaksi sosial. Lebih dari itu belajar bersama akan menumbuhkan semangat dan motivasi belajar siswa. Sering kerja sama dalam belajar, bagi siswa yang kurang prestasinya akan menumbuhkan kegairahan tersendiri dan keberanian melakukan kegiatan belajar. Demikian sebaliknya, bagi siswa yang menonjol prestasinya sering menjadi kebanggaan tersendiri sebab terbuka kesempatan menunjukkan kebolehannya di siswa yang lainnya.

c.       Korelasi dan Integrasi
Ingatan manusia sangat terbatas seperti halnya ingatan para siswa. Apa yang sudah dipelajari siswa kadang-kadang tidak tahan lama dalam ingatannya. Salah satu usaha agar bahan yang sudah dipelajari atau sedang dipelajari cukup lama diingat oleh siswa, bisa dilakukan dengan prinsip korelasi dan integrasi. Korelasi dimaksudkan apa yang dipelajari siswa harus dihubungkan dengan apa yang telah dikuasainya atau dihubungkan dengan peristiwa kehidupan sehari-hari yang biasa dialami siswa. Sedangkan integrasi mengandung pengertian bahwa semua bahan yang telah dan sedang dipelajari siswa tidak terpisahkan satu sama lain.


d.      Aplikasi dan Transformasi
Aplikasi dan transformasi atau pemakaian dan pemindahan merupakan hal yang sangat penting dalam perbuatan belajar. Sejalan dengan korelasi dan integrasi, aplikasi dan transformasi berfungsi untuk memperkuat ingatan siswa. Pengingatan kembali bahan atau informasi yang sudah dipelajari akan muncul apabila dihadapkan pada situasi baru yang serupa. Proses ini dikatakan pemindahan atau transformasi. Latihan dan pengulangan merupakan upaya yang menunjang prinsip pemindahan. Pemakaian atau aplikasi pada hakikatnya menerapkan atau menggunakan prinsip atau konsep bahan dalam memecahkan persoalan. Prinsip ini dilaksanakan apabila guru setiap mengajarkan prisip, konsep, hukum selalu disertai penggunaannya dalam bentuk pemecahan masalah atas dasar makna yang terkandung dalam konsep, prinsip atau hukum yang telah diajarkannya.Prinsip aplikasi dan transformasi ini penting untuk mencapai hasil belajar tahan lama, dan sifatnya integrasi tiga kawasan hasil belajar yakni pengetahuan, sikap dan keterampilan.

e.       Individualitas
Tidak ada dua orang individu yang sama baik dari segi psikis maupun dari segi fisik. Kemampuan siswa sebagai individu berbeda satu sama lain. Perbedaan tersebut nampak pula dalam minat, perhatian, sikap, cara belajar, kebiasaan belajar, motivasi belajar, dan lain-lain. Menuntut kegiatan atau proses belajar dan hasil belajar yang sama dari siswa pada hakikatya mengingkari adanya perbedaan individu. Demikian pula menyesuaikan pengajaran kepada orang demi orang bukanlah cara yang bijaksana. Prinsip individual tidak berarti memberi pelayanan secara perorangan, akan tetapi menyesuaikan dengan kemampuan rata-rata para siswa, memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa yang memerlukannya, memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya, memberi kemampuan siswa untuk melakukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya. Dalam praktek pengajaran, prinsip individual dapat digunakan guru dalam beberapa cara, antara lain:
1). Guru memberi tugas secara individual sehingga siswa dapat mengerjakan tugas tersebut secara mandiri.
2). Guru membuat pengelompokkan belajar siswa atas dasar kemampuan yang relatif sama.
3). Menerapkan cara belajar tuntas.
4). Mengembangkan proses belajar sendiri.
Penggunaan prinsip mengajar yang dijelaskan diatas tidak sendiri-sendiri tapi bisa dilaksanakan secara berkelompok. Perbedaannya hanya pada tekanan yang kan diutamakan dari pirinsip-prinsip tersebut, sesuai dengan kondisi pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar.






[1] Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Pedoman Pembelajaran tuntas, (Jakarta: 2003).h.5
[2] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta; Bumi Aksara, 1995). 57
Share This :
rohman71