Ini adalah sepenggal dari kisah dari Kami mahasiswa perantau di negeri syari'at, Aceh. Kami adalah para mahasiswa yang baru mulai menempuh pendidikan di Banda Aceh.
Awal mula petualangan itu kami mulai ketika menjelang hari raya idul Adha tahun 2013. di Aceh ketika 2 hari bahkan 1minggu sebelum hari raya, sekolah dan kampus sudah libur terlebih dahulu untuk merayakan hari megang.
Malam itu seperti malam biasanya, Ketika tidak ada kegiatan, kami duduk ngumpul bareng di ruang tamu kontrakan sambil sibuk beraktivitas masing-masing.
Ditengah kesibukan tersebut, tiba-tibaan Irfan (kepala suku) membuka pembicaraan, "eh lebaran kemana kita ini? masa libur mau di kosan aja, ga bosan apa klean?" Tanyanya lagi.
Ternyata pertanyaan itu membuat kami terdiam dan berfikir dalam sambil mengajukan pendapat.
Ada yang mengatakan ke Seulawah aja, Lampuuk, beurayeun dan tempat lain yang populer di Aceh. dan terakhir Uzi nyeletuk "kenapa ga ke Sabang aja? Biar sekalian." Ungkapnya memecah perdebatan. Ternyata pendapat itu langsung disetujui oleh teman-teman yang lain.
Keesokan harinya, kami mulai atur rencana dan mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Pakaian, logistik maupun transportasi.
Setelah dirasa cukup, akhirnya kami putuskan keesokan harinya kami berangkat. Persiapan ini memang bisa dibilang mendadak dan tanpa persiapan matang, atau juga bisa diistilahkan disitu mau buang air, disitu juga baru buat lubang.
Rabu pagi, 07.30 kami sudah stay di pelabuhan Ulee Lheue untuk kejar kapal pertama. Tapi ternyata, antrian di pelabuhan sudah sampai ke halaman pelabuhan, maklumlah ternyata bukan hanya kami yang hendak liburan ke Sabang. Akhirnya kami menunggu trip ke dua pukul 10.00 wib.
Setelah kurang lebih 2 jam menunggu, akhirnya kapal kedua sudah mulai merapat dan membuka pintu utama, dan tanpa pikir panjang lagi, kami langsung tancap gas untuk masuk ke dalam Ferry penyebrangan. Setelah semua penumpang naik, perlahan kapal mulai meninggalkan pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan Sabang. Penyebrangan tersebut memakan waktu sekitar 2 jam. Dalam waktu yang lumayan itu, kami isi dengan kesibukan masing-masing. Ada yang berfoto, tidur-tiduran atau juga berkeliling kapal.
2jam berlalu, akhirnya kapal bersandar di Pelabuhan Balohan Sabang dan kami pun perlahan keluar. Setelah turun dari kapal, tujuan kami adalah langsung ke pusat kota Sabang. Namun karena terkendala hujan, akhirnya kami ubah rute belok ke kiri mampir di masjid untuk berteduh sembari menunaikan sholat Dzuhur.
Setelah dirasa cukup reda, kamipun bergegas melanjutkan perjalanan.
Kurang lebih 30 menit kemudian, akhirnya kami sampai di pusat kota Sabang yang tidak terlalu besar dan tertata rapi. Kami mulai atur rencana lagi untuk tujuan selanjutnya. Maklumlah, kami berangkat bisa dibilang modal nekat dan modal pas-pasan.
Setelah diskusi sebentar, akhirnya kami putuskan untuk ke 0 Km Indonesia terlebih dahulu karena jarak yang lumayan jauh dari pusat kota dan juga semboyan bang Jebraw yang pernah mengatakan "Seorang Traveller Sejati dimulai dari Nol Km". Jarak antara pusat kota dan 0 Km kurang lebih 29km, jarak yang lumayan untuk waktu yang singkat.
Tak terasa roda sudah berputar cukup lama dan sudah melewati berbagai macam trek pendakian, akhirnya kami pun sampai di lokasi tujuan. Sebenarnya di perjalanan menuju ke 0 Km ada kisah menarik antara dua teman kami. Tapi hal ini tak perlu kami ceritakan, karena menyangkut harga diri. Hehehe
Pukul 15.00 akhirnya kami pun sampai ke 0Km Indonesia. Kami langsung menuju ke monumen dimana titik awal penghitungan luas wilayah Indonesia. Kami langsung mengeluarkan kamera dan berpose bergantian dengan latar tugu 0Km. Tapi ada yang disayangkan pada waktu itu, tugu yang kurang terawat karena terdapat banyak coretan-coretan nakal. Mungkin jika kalian datang sekarang, kalian tidak akan menemukan coretan itu lagi karena tugu 0km Indonesia sudah renovasi total.
Setelah dirasa cukup, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Iboih, Pulau Rubiah. Di pulau ini sangat terkenal dengan biota lautnya yang sangat masih terjaga. Nemo, Dori, berenang kesana kemari diantara karang. Ketika hendak menyeberang ke Rubiah, ada sedikit perseteruan antara kami karena ada diantara kami tidak setuju jika menyebrang ke pulau tersebut. Sekali lagi maklum, karena bajet kami tipis.
Namun setelah kami diskusikan, akhir kami putuskan untuk menyebrang. karena ya memang nanggung kalau sudah ke Sabang kok ga ke rubiah itu sangat disayangkan. Kami menyewa boat untuk menyebrang ke Rubiah dengan harga Rp. 200 + 40k/sheet alat snorkeling dan kami pun go to Rubiah resort untuk menikmati bagian kecil dari pesona alam Indonesia.
Puas bercanda dengan Nemo dan dori, akhirnya kami putuskan untuk beranjak dari Rubiah.
Perlahan, malam pun tiba. Sedangkan kami masih berada di Iboih dan belum mendapatkan penginapan ditambah lagi ban motor salah satu diantara kami bocor dan menjadikan perjalanan kami sedikit terhambat. Setelah Isya dan urusan ban motor selesai, akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju ke kota untuk mencari tempat bermalam.
Penginapan demi penginapan kami datangi, ternyata tidak ada yang cocok dengan kantong kami, dan akhirnya malam itu kami putuskan untuk menginap di musholla milik angkatan laut. Namun sebelum memutuskan untuk menginap disitu kami kembali berseteru, sebagian dari teman-teman tidak setuju kalau bermalam di musholla milik angkatan laut tersebut. Tetapi saya dan beberapa teman ga berfikir panjang, karena memang ga ada tempat lagi kecuali musholla. Malam itu kami putuskan yang mau tidur di musholla ayo, tapi kalau yang ga mau silahkan cari penginapan lain. Tapi karena malam itu memang ga ada opsi lain selain musholla, akhirnya mereka yg kurang setuju pun tidur lebih pulas di dalam musholla.
Belum puas rasanya meluruskan bahu, alaram pukul 4.30 sudah berdering. Kami pun segera bergegas bangun untuk membereskan sisa tidur kami dan kemudian sama-sama menunaikan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat kami langsung beranjak menuju pantai sumur tiga dan Bunker Jepang yang merupakan spot andalan dan juga sebagai lokasi pengembaraan terahir kami di pulau Sabang. Selesai mengabadikan momen, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke pelabuhan Balohan dan mengakhiri perjalanan kami di pulau Sabang.
Selesai.....
Dari perjalanan itu kami menyadari bahwa tak ada kesan yang lebih indah setelah bersama orang tua adalah ketika bersama sahabat, walaupun perseteruan itu pasti ada. Kenangan itu pasti akan teringat hingga mata tertutup untuk terakhir kalinya.
Thanks brother..
📌MarkasTanjung
Share This :



comment 2 komentar
more_vertGambare ra ketok cuk
12 August 2018 at 00:17Sistem penulisannya masih kurang gan.. mohon di perbaiki
12 August 2018 at 19:04